Thursday, November 23, 2017

Hidup adalah Pilihan

Kisah lantai Keramik

Di sebuah museum yang sangat megah dan indah  museum itu di hiasi dengan lantai keramik yang sagat indah. Dan orang-orang dari seluruh dunia berdatangan ke museum itu untuk menikmati berbagai karya-karya  yang di musiumkan.

Di tengah-tengah museum itu ada sebuah patung yang sangat indah yang banyak menarik peratian pengunjung museum, patung yang indah itu merupakan patung replika Napoleon yang hampir menyerupai aslinya, yang di pahat oleh pemahat terkenal dan berpengalaman.

Patung itu ternyata di buat dari bahan keramik. Patung itu selalu menjadi perhatian para pengunjung hampir setiap hari patung yang berada  ditengah-tengah musium itu selalu di kunjungi pengunjunng, ada yang berfoto atau hanya sekedar meliaht dan menikmati keindahannya saja.

Suatu malam lantai keramik berkata kepada si patung keramik. "Hai patung keramik hidup ini ternyata tidak adil, dunia memang tidak adil". Jawab si Patung Keramik,"Memang ada apa dengan engkau saudara ku?", Jawab si lantai keramik,"saudara ku engkau tahu bahwa kita berdua terbuat dan di ambil dari gunung yang sama, dan berasal dari tempat yang sama, serta berada di tempat yang sama pula, akan tetapi kita di perlakukan dengan sangat berbeda, banyak orang datang dari seluruh dunia datang hanya untuk melihat mu dan tidak ada sedikit pun yang memperhatikan aku malah mereka selalu menginjak-nginjak aku coba apakah itu tidak adil namanya?, akutidak bisa menerima hal ini kita kan terbuat dari bahan yang sama mengapa kita  di perlakukanberbeda?".

Jawab Patung keramik dengan lembut."Saudara ku, aku tahu bahwa kita ini sama bahwa kita berasal dari gunung yang sama, dan berada di tempat  yang sama,   tetapi aku juga menyesalkan perbuatan mu".Jawab lantai keramik dengan kasar."Perbuatan apa maksudmu!?.

Jawab Patug keramik dengan lembut."Saudara ku mungkin engkau sudah lupa sewakti kita di ambil bersama-sama kita di bawa kepada si tukang pahat dan engkau mendapat giliran pertama, engkau tidak membiarkan dirimu di pahat karena tidak tahan dengan rasa sakit yang timbul akibat proses pemahatan engkau malah menguat kan dirimu dan merusak alat pahat si pemahat itu".

Jawab si Lantai dengan herannya. "Apakah yang salah dengan itu?".
Lantai keramik menjawab ." Saat engkau menolak untuk di pahat pemahat itu memutuskan untuk memahat ku dan aku tidak berontak aku menahan rasa sakitnya dan tidak merusak alat pahat si pemahat itu dan akhirnya aku menjadi seperti ini, karnena aku yakin sesudah penderitaan pasti ada harapan, dan engkau tidak boleh mengeluh wahai saudara ku nasib mu hari ini adalah pilihanmu sendiri engkau lebih memilih untuk menghindari rasa  sakit saat di pahat yang sangat lama, dan memilih  rasa sakit yang hanya sebentar dalam pabrik percetakan lantai jadi janganlah engkau menyesalinya karna itu semua keputusan mu".

Dan akhirnya lantai keramik meminta maaf kepada saudarnya itu dan tidak lagi menyesali keadaanya tetapi tetapi mensyukuri keadaanya yang sekaran dan menyadari bahwa semua adalah pilihanya maka dia harus mejalaninya dengan konsekwen.

No comments:

Post a Comment

Translate